BAHASA BETAWI

Oleh : Drs. H. Abdul Chaer

kong Guntur Elmogas (Ahli Pantun Betawi)

kong Guntur Elmogas (Ahli Pantun Betawi)

Bahasa Betawi adalah salah satu dialek areal dari bahasa melayu, yang berkembang sejak awal-awal abad masehi di kawasan antara sungai Cisadane disebelah barat sampai sungai Citarum di sebelah timur; dari pantai Teluk Jakarta disebelah utara sampai dekat kaki gunung salak disebelah selatan. Kosakatanya sebagian besar sama dengan kosakata bahasa melayu umum; lalu diperkaya dengan kosakata dari bahasa Arab, cina, Belanda dan beberapa bahasa daerah lain, seperti bahasa Jawa, Sunda, dan Bali. Selain ada kosakata khas milik bahasa Betawi.

Secara formologi ciri pengenal bahas Betawi adalah bahwa bunyi (a) dan bunyi (ah) pada akhir kata dilafalkan menjadi bunyi (e); tetapi dengan catatan bahwa didaerah pinggiran Jakarta (a) dan (ah) itu tetap dilafalkan sebagai bunyi (a) atau bunyi (ah), namun banyak orang hanya mengenal bahwa bahasa Betawi dengan bunyi (e) itu.

Pada tataran morfologi bahasa Betawi memiliki prefeks Nasal (m,n,ny,ng dan nge) dan memiliki sufiks – n. Kedua afeks ini kini banyak digunakan dalam berbahasa Indonesia Non formal. Prefeks nasal sebagai pengganti prefeks me – dan sufiks – in sebgai penggati sufiks – i dan sufiks – kan.

Bahasa Betawi adalah alat komunikasi lisan nonformal, untuk situasi formal orang Betawi dulu menggunakan bahasa Melayu, yang mengarah pada bahasa Melayu tinggi, dan sekarang menggunakan bahasa Indonesia.

Sebagai ragam bahasa nonformal, maka dalam bahasa Betawi banyak di dapati bentuk-bentuk kontraksi, yurasem (berasal dari Sayur asem); kanasin (berasal dari ikan asin); kannasi (berasal dari makan nasi) akibat lain dari bahasa Betawi yang merupakan ragam bahasa lisan nonformal, maka bahasa Betawi tidak dapat dipaksakan untuk digunakan dalam situasi formal, baik lisan maupun tulisan.

Bahasa Betawi tidak mengenal tingkat sosial bahasa, seperti yang ada pada bahasa jawa, sunda dan Bali; maka untuk menyatakan tingkatan sosial antara penutur dan lawan tutut dilakukan secara leksikal. Misalnya menggunakan kosakata diri, nama perekerabatan, atau nama gelaran untuk menggantikan kosakata yang bernilai sosial tertentu.

Orang-orang dan anak-anak Betawi yang hidup dan dibesarkan dalam masyarakat/keluarga Betawi akan faham dan mengerti serta menjadi kebiasaan untuk menggunakan kosakata Betawi sesuai dengan kesantunan dan nilai dan nilai sosial kosakata itu, dan kemudian menjadi kebiasaan dan ketrampilan dalam berbahasa. Banyak orang bukan Betawi atau yang baru tinggal di Jakarta tidak akan dan tidak mengerti aturan sosial adat istiadat berbahasa Betawi. Maka mereka banyak keliru dalam berbahasa Betawi.

(The Author)

View all articles by
Social Links: →

Leave a Comment