Bahasa Betawi Muhammad Bakir: Ulasan Singkat

Kabar Betawi

JULI-2 034 - Copy

oleh

Dewaki Kramadibrata (Program Studi Indonesia, FI B UI)

1.      Pengantar

Nama Muhammad Bakir sebagai penyalin/pemilik naskah/pengarang yang hidup di abad ke-19 di Jakarta mulai dibicarakan pada tahun 1980-an dengan munculnya tulisan-tulisan Chambert-Loir (1984, 1986, dan 1987). Setelah publikasi Chambert-Loir tentang Muhammad Bakir, naskah-naskah disalin atau dikarang oleh Muhammad Bakir pun mulai ditransliterasikan dan diterbitkan pada tahun 1980-an (Ahmad, 1981; Kramadibrata, 1982; Sunardjo, 198 ) sampai tahun 1990-an (Hussain, 1992; Kramadibrata, 1993; dan transliterasi-transliterasi yang diterbitkan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa pada 1993 dan 1995).  Chambert-Loir pun menerbitkan edisi teks Hikayat Nakhoda Asyik dan Hikayat Merpati Mas (Jakarta, 2009).

 Chambert-Loir telah mendaftar hasil karya Muhammad Bakir (1984:48—49). Jika melihat daftar koleksi naskah yang disewakannya, jumlah koleksi naskahnya mencapai 56 judul (Chambert-Loir, 1986:4).  Yang masih ada sampai sekarang jumlahnya diperkirakan mencapai  26 judul. Selanjutnya, berdasarkan angka tahun yang tercantum dalam naskahnya, Muhammad Bakir  menghasilkan karya dalam kurun waktu 1884—1898 (Chambert-Loir, 2013).

2. Karya Muhammad Bakir

 Yang disimpan di Perpustakaan Nasional, Jakarta.

I. Cerita Fiksi      

1.  Hikayat Sultan Taburat (1885, 1887, 1893, 1894)

  1. Hikayat Merpati Mas (1887)                                      
  2. Hikayat Nakhoda Asik (1890)                                               
  3. Hikayat Syah Mandewa (1893)                                             
  4. Hikayat Syahrul Indra (1893)                                    
  5. Sair Siti Zawiyah (1893)                                                        
  6. Hikayat Indra Bangsawan (1894)                                          
  7. Hikayat Begerma Cendra (1888)                                           
  8. Seribu Dongeng                                                         

II. Cerita Wayang

  1. Hikayat Angkawijaya (1864)
  2. Hikayat Asal Mulanya Wayang (1889–1890)
  3. Hikayat Gelaran Pandu Turunan Pandawa (1890)
  4. Sair Perang Pandawa (1890)
  5. Hikayat Agung  Sakti (1892)
  6. Hikayat Maharaja Garbak Jagat (1892)
  7. Lakon Jaka Sukara (1894)
  8. Hikayat Sri Rama (1896)
  9. Hikayat Wayang Arjuna (1897)
  10. Hikayat Purasara

      III. Cerita Panji

  1. Hikayat Panji Semirang (1888)
  2. Sair Ken Tambuhan (1897)

       IV. Cerita Islam

  1. Hikayat Syaikh Muhammad Saman (1884)
  2. Hikayat Syaikh Abdulkadir Jaelani (1892)
  3. Hikayat Nabi Bercukur (1893)

      V. Syair Simbolik

  1. Sair Sang Kupu-kupu (1893)
  2. Sair Buah-buahan (1896) (Chambert-Loir & Kramadibrata, 2013:1).
  1. Yang disimpan di tempat lain, yaitu

(1)   Perpustakaan Universitas Leiden:   Hikayat Angkawijaya (Cod.Or. 3221) dan Hikayat Cekel Waningpati (Cod.Or. 3245).

(2)   Di Perpustakaan Universitas Leningrad (St. Petersburg) ditemukan sejumlah naskah yang berasal dari koleksi keluarga Muhammad Bakir.

 

3.      Bahasa dalam Naskah Muhammad Bakir

Sebagai pengarang yang hidup pada masa transisi (peralihan antara sastra lama dan sastra modern), gaya bahasa Muhammad Bakir sangat khas. Salah satu kekhasan yang menonjol adalah gaya bahasa simile.

Muhammad Bakir menggunakan kata seperti untuk menyatakan perbandingan yang digabung dengan: (1) nama mainan/alat/benda; (2) orang dengan sifat/perbuatan/kelakuan; (3) unsur-unsur alam; (4) makanan; dan (5) binatang. 

Contoh diuraikan sebagai berikut.

  1. Seperti+nama mainan/alat/benda

Maka raksasah pun terlalu amat maranya lalu ditangkapnya Garubug serta dilemparkan ka udara. Maka Garubug pun lalu terlayang-layang seperti layangan kodok-kodokan rupanya itu lalu gugur ke bumi (Hikayat Maharaja Garebag Jagat, hlm. 33).

 Maka terputar-putarlah Maharaja Garebag Jagat seperti bangsing1) rupanya  (Hikayat  Maharaja Garebag Jagat, hlm. 110).

Maka setelah Ayowangga menengar kata Ki Kresna itu, maka jadi berbantah-bantahan keduanya itu. Jadi semingkin bertamba mara sahut-menyahut seperti  petasan cabai rawit berbantahan besyar sekali ( Lakon Jaka Sukara, hlm. 41).

 Maka jadi beradulah keris. Maka suaranya seperti kawat berbunyi, “Krang-kring, srang-sring, tang-ting” seperti orang memalu besi suaranya ( Hikayat Purusara, hlm. 228).

      2.      Seperti+orang dengan sifat/perbuatan/kelakuan

Maka pada masa itu menyahutlah Dipati Karna itu, katanya, “Hai Kresna, apa kabar? Apa cerita sekonyong-konyong datangnya seperti makan bubur kepanasan, seperti Cina kebakaran jenggot, …( Hikayat Wayang Arjuna, hlm. 40).

 Maka lalu kembali pula bermain-main tangan sama-sama bersambut-sambutan seperti Cina mengadu barongan seia lakunya (Hikayat Wayang Arjuna, hlm. 43).

Setelah segala anak-anak Pandawa melihat Sang Rajuna datang, maka masing-masing tangannya meminta’-minta’ tolong, tetapi hendak bangun tiada dapat. Maka rupanya seperti tukang minta’-minta’ di dekat jalanan Muara Baru (Lakon Jaka Sukara, hlm. 163).

Maka setelah ingat daripada pingsannya, maka berperanglah ia di sisi matahari itu berhusir-husiran pada bundaran matahari, berlari-lari seperti anak-anak bermain udak-udakan itu seputar-putarnya matahari (Lakon Jaka Sukara, hlm. 197). 

 

3.       Seperti+unsur-unsur alam

Maka segala rakyat barisan kena kasima atau seperti kena beraja[1] dibuatnya seperti rumput alang-alang (Hikayat Maharaja Garebag Jagat, hlm. 77).

 Maka pada masa itu Pati Anggalaya pun serasa tiada dapat bertahan lagi rasanya. Sunggu tiada melukai badannya, tetapi panasnya Pancaroba tiada terkira-kira seperti api rasahnya atau seperti bara (Hikayat Maharaja Garebag Jagat, hlm. 88).

 Maka suara anak pana itu seperti hujan yang lebat turun di atas ruma kaleng, demikian suaranya seperti tahon yang keluar dari sarangnya, “Srawang-sriwing, bat, bat!” (Lakon Jaka Sukara, hlm. 180).

 Maka menjadi dahsyatlah suara sekalian menjadi satu seperti ombak di laut mengalun-alun atawa seperti suara tawon yang kerusakan sarangnya, demikian hal itu (Lakon Jaka Sukara, hlm. 80).

 Setelah itu maka Raja Naga Jindara pun terlebi sangat maranya, matanya pun menjadi mera dan mukanya seperti bunga uribang[2] (Lakon Jaka Sukara, hlm. 84).

 

  1. Seperti+makanan

Maka Maharaja Banjar Persangga pun lebi sangat amarahnya serta diangkat gadahnya dengan katanya, “Jangankan serupamu ini, manusia besi dan tembaga, kalau aku palu juga niscaya hancur seperti emping jengkol atau seperti tepung!” (Hikayat Maharaja Garebag Jagat, hlm. 67).

 Maka pada masa itu lalu disurunya Bupati Nala Guriang Nala akan mengikat dan belebet, lalu diikatnya kaki tangannya Banjar Jumut itu seperti lepet rupanya itu (Hikayat Maharaja Garebag Jagat, hlm. 75).

 Maka suara peluru meriam dan senapan seperti petasan rincingan atawa seperti kacang hijau tumpa di tampa (Lakon Jaka Sukara, hlm. 145).

 Maka dengan sekali dupak pun berhamburan otaknya dan keluar biji matanya dan ada yang diinjaknya. Maka jadilah seperti tetempe (Lakon Jaka Sukara, hlm. 147).

5.      Seperti+binatang

Maka Narada pun keluarlah ia melayang-layang seperti bangau rupanya (Hikayat Maharaja Garebag Jagat, hlm. 35).

Maka Nala Gareng takut membuka suaranya di hadapan Pati Narada melainkan ia ada memanggut saja seperti tekukur rupanya itu (Hikayat Maharaja Garebag Jagat, hlm. 38).

 Maka jadi bergulat-gulatanlah seperti babi bunting berkelahi rupanya, berguling-guling keduanya di bumi (Hikayat Maharaja Garebag Jagat, hlm. 42).

 Maka badannya pun dicincang orang, berapa ada manusia datang memotong padanya hingga menjadi seperti lalawar[3] rupanya (Hikayat Maharaja Garebag Jagat, hlm. 43).

 Maka jadi haru-haralah dan Pati Lesana Putra kedua Raden Samba mengamuk dengan tiada terkira-kira lagi dan tiadalah menantang larang lagi seperti harimau garangnya karena kedua prajurit Jenggala suda masyhur pendekar dan bijaksanah di tenga medan (Hikayat Maharaja Garebag Jagat, hlm. 45).

Maka Lura Grubuk pun memasang kepala seperti kambing bandot berkelahi serta diseruduknya perutnya Randang Kecipuluk … (Lakon Jaka Sukara, hlm. 72).

 Maka Sang Gatotkaca lakunya seperti burung garuda dan tiada bersalahan seperti capung cibuk [4](Lakon Jaka Sukara, hlm. 143).

Maka suara keris beradu itu seperti ikan cupang berkelahi atawa seperti orang memalu besi, “Tang-ting-tung, krang-kring” (Lakon Jaka Sukara, hlm. 164).

 

4.      Cara Mendeskripsikan Keadaan

Dalam bagian ini akan diberikan contoh khas Muhammad Bakir menggunakan bahasa Melayu Betawi dalam ceritanya. Contoh diambil dari teks Lakon Jaka Sukara. Lakon Jaka Sukara berisi cerita tentang Pendeta Dipa Kusuma di Gunung Indrakila. Ia mempunyai seorang putri bernama Ratna Sari yang sangat merindukan Arjuna. Pendeta Dipa Kusuma mengubah dirinya menjadi seekor burung perkutut. Ia berhasil mendapatkan Arjuna, lalu mengawinkannya dengan Ratna Sari. Ratna Sari kemudian melahirkan  seorang putra bernama Raden Putra Jaka Tilangin.

Selanjutnya, ketika Arjuna bertapa di Gunung Pakembangan, ia kawin dengan anak Pendeta Buyut Kusuma yang  bernama Dewi Ratnawati. Dewi Ratnawati melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Raden Bambang Sukara.

Raja Parwa Kusuma dari negeri Karang Kencana akan menyelenggarakan perang tanding untuk memilih calon suami bagi putrinya, Birantawati. Raja-raja yang melamar begitu banyak.  Raja Suyudana dan Pendeta Dorna dari Astina datang melamar untuk anaknya, Arya Dursasena. Demikian juga, Raja Darmakusuma dari keluarga Pandawa dari Amarta, yang akan melamar untuk anaknya, Pancawala.

Raden Jaka Tilangin dan Raden Bambang Sukara secara tidak sengaja datang ke negeri Karang Kencana, padahal sebenarnya mereka mencari negeri Pandawa untuk menemui ayahnya, Arjuna. Mereka berdua akhirnya terlibat perang tanding dengan prajurit Karang Kencana dan raja-raja yang diundang.

Perang tanding memperebutkan Birantawati berlangsung berbulan-bulan lamanya. Prajurit negeri Karang Kencana menyerah kalah diamuk oleh Gatot Kaca, Jaka Tilangin, dan Bambang Sukara. Mereka bertiga menguasai medan peperangan dan akhirnya mati bersama-sama. Keris milik Gatot Kaca yang bernama Pandawa Cinarita menikam Raden Sukara, keris Raden Sukara yang bernama Puspa Geni menikam Jaka Tilangin, dan keris Jaka Tilangin yang bernama Pancaroba menikam Gatot Kaca. Karena tidak saling mengenal, mereka saling membunuh.

Kayangan menjadi gonjang. Batara Narada diutus membawa air banyu penguripan untuk menghidupkan mereka kembali. Batara Narada memperkenalkan bahwa mereka adalah bersaudara. Jaka Tilangin dikawinkan dengan Birantawati.

Dalam perjalanan menuju Pandawa, Raden Jaka Tilangin bertemu dengan Arya Dursasena.  Arya Dursasena mengamuk dan merebut Birantawati, lalu dibawa lari ke Astina. Ketika mendengar kabar Arya Dursasena menculik isteri Raden Jaka Tilangin,  keluarga Pandawa menjadi marah. Mereka menyusul ke negeri Astina untuk mengambil kembali Birantawati Perang tak dapat terhindarkan lagi. Keluarga Astina banyak yang binasa, sebagian dipenjara, kecuali Raja Suyudana dan  Pendeta Dorna yang melarikan diri.

Destarata yang berdiam di kayangan  mendengar anak cucunya di Astina dibinasakan merasa sakit hatinya. Ia lalu menjelma menjadi Pangeran Jatiwitana. Pangeran Jatiwitana dengan dibantu Suyudana dan Dorna berhasil menjumpai Semar untuk meminta kunci penjara. Keluarga Astina terlepas dari penjara dan peperangan berkobar lebih dahsyat.

Keluarga Pandawa, termasuk Arjuna dan Bima, berhasil ditangkap oleh keluarga Astina. Pandu Dewanata yang berada di kayangan kemudian menjelma menjadi Pangeran Jatiwilaga. Ia berniat membantu anak cucunya dari keluarga Pandawa.

Perang yang semakin hebat mengakibatkan kayangan menjadi goncang. Batara Guru mengutus Batara Narada untuk memisahkan mereka yang berperang. Jatiwitana berubah kembali menjadi Destarata dan Jatiwilaga berubah kembali menjadi Pandu Dewanata. Keduanya kemudian saling bermaafan dan berjabat tangan, lalu kembali kekayangan bersama Batara Narada. Setelah keadaan menjadi tenang, masing-masing kembali ke negaranya.

Dalam Lakon Jaka Sukara, Muhammad Bakir menggambarkan keadaan Dewi Ratnasari yang sedang bermimpi berkasih-kasihan dengan Sang Arjuna sebagai berikut.

 

Maka pada masa itu Dewi Ratnasari di dalam mimpinya lalu duduk bersuka-sukaan dengan sang Rajuna dan bercintah-cintahan, bersenda gurau dengan tiada habisnya dan tiada hingganya, menyukakan kasi dan menghabiskan pengasi seperti susu dengan madu. Daripada sebab asyiknya itu hingga biasanya bangunnya Dewi Ratnasari itu biasanya bangunnya gelap-gelap, pukul empat atawa pukul lima pagi, maka waktu itu ia bangunlah ia sampai tengari kira-kira pukul sebelas siang. Maka Pendeta Dipa Kusuma kedua istrinya pun jadi bingung hatinya melihat anaknya itu bukan seperti sehari-hari. Hendak dibangunkannya, takut kalau-kalau anaknya gusar atawa menjadi penyakit orang yang sedang asyik tidur dibangunkan. Maka itulah tiada dibangunkannya, diturutinya barang semaunya anaknya tidur itu. Lagi takut kalau-kalau anaknya pada semalam ia begadang menjait, jadi mengantuk, melainkan heran pendeta adanya (Lakon Jaka Sukara, hlm. 40—41).

 

Kata yang dicetak miring pada kutipan di atas, yaitu tengari (tengah hari) dan begadang menjait merupakan kata khas bahasa Betawi. Muhammad Bakir menggambarkan saat Arjuna hendak menangkap burung perkutut yang merupakan penyamaran Pendeta Dipa Kusuma sebagai berikut.

 Setelah perkutut melihat rupa sang Rajuna, maka terlalu heran, sunggu seperti  rupa Batara Kamajaya. Maka perkutut pun semakin memanggung-manggung dengan suka hatinya. Setelah hampir satu jengkal punya jau sampai ditangkapnya, maka perkutut pun lalu terbang pada seberang pohon yang lain. Maka hinggap di pohon kemuning. Maka sang Rajuna pun turunlah dengan katanya, “Di mana kakang Semar terbangnya. Jinak sunggu rupanya, kalaukan orang punya terlepas?” Maka sembahnya Lura Semar, “Di pohon kemuning, tuanku.” Maka sang Rajuna pun naik di pohon kemuning. Setela hampir dua jari punya jau lagi, sedikit juga kena, maka perkutut pun terbanglah pada sebelah pohon yang lain di tanggal pohonnya nagasari. …. Maka perkutut pun memanggung-manggung semangkin jau terbangnya lalu hinggap pada pohon jati hampir pinggir kali. (Lakon Jaka Sukara, hlm. 45—46).

                       

            Kata yang dicetak miring pada kutipan di atas, yaitu hampir satu jengkal punya jau, merupakan ungkapan khas bahasa Betawi. Sementara itu, penggunaan latar tempat saat Arjuna mengejar burung perkutut juga penggambaran suasana khas Betawi pada masa itu, yaitu pohon kemuning, pohon nagasari, dan pohon jati di tepi kali.

                Ketika Pendeta Dipa Kusuma sampai kembali ke pertapaannya, Muhammad Bakir menggambarkan keadaan sebagai berikut.

 

                        Maka seketika bertemulah dengan Pendeta Dipa Kusuma sedang dihadap dengan istrinya dan anaknya yang perempuan namanya Dewi Ratnasari. Maka kata Pendeta Dipa Kusuma, “Hai anakku, sabarlah tuan dahulu. Dengan segeranya bertemu jua jodo anakku dengan nama sang Rajuna, anak Pandawa. Lagi tiga menit lagi ia sampai kemari bersama dengan pundakawannya. Maka baiklah anakku mencari sesuguan dan masak-masak air dan rebus-rebus pisang keladi.” Setelah Dewi Ratnasari menengar kata ramanya, maka terlalu amat suka’ hatinya. Dengan segerahnya ia pergi memasak air dan memarut kelapa dan perbuat kolak dan rebus pisang (Lakon Jaka Sukara, hlm. 47).

 

Kalimat yang dicetak miring pada kutipan di atas, yaitu Lagi tiga menit lagi… juga merupakan struktur khas bahasa Betawi. Sementara itu, mencari sesuguan, masak air, rebus pisan keladi, memarut kelapa, dan membuat kolak dan merebus pisang menggambarkan suasana kehidupan khas orang yang tinggal di pegunungan ataupun di daerah pedesaan di Betawi pada masa itu..

Muhammad Bakir mempunyai kebiasaan untuk mengakhiri ceritanya dengan syair. Syair tersebut dapat berisi ringkasan jalan cerita, kondisi saat ia mengarang, ataupun permohonan supaya pembaca jangan lupa membayar uang sewa naskahnya. Berikut ini dikutipkan syair penutup pada Lakon Jaka Sukara.

                     Habislah lakon putus cerita

                     Mengarang ini sangat bersegera

                     Lima belas hari itu antara

                     Mengarang Lakon Jaka Sukara

 

                        Mengarang ini sangat bercepat

                        Bukunya tipis tulisannya rapat

                        Dikarang cerita apa yang dapat

                        Difardhukan menulis sesempat-sempat

 

                        Lima belas hari kami mengarang

                        Tulisannya rapat bukannya jarang

                        Perkata’annya janggal lebi dan kurang

                        Minta’lah maklum sekalian orang

 

                        Sebab menulis tiada bertentu

                        Kapan sempat sembarang waktu

                        Ditentukan dari pukulnya satu

                        Sesempatnya kami waktu di situ

 

                        Menulis ini lakonnya wayang

                        Akan ditulis malam dan siang

                        Menulis sampai badan meriang

                        Keluarin wang sewa jangan disayang-sayang

 

                        Menulis ini terburu-buru

                        Sebab ceritanya lakon baru

                        Mengarang seperti orang diharu

                        Padahal tiada ada yang suru

 

                        Sebab takut hilang cerita

                        Jadi janggal bahasanya pata

                        Tulisan bagai orang terlunta

Maka jangan dibuat kata

 

Anak Betawi empunya bahasa

Adalah gampang adalah susa

Maka hamba belon biasa

Maka menulis berkala kasa    

 

5.      Penutup

Berdasarkan uraian pada bagian ketiga dan keempat, terlihat bahwa Bakir mempunyai kekhasan dalam menyampaikan pikirannya. Kekhasan itu tampak karena Bakir memakai perbandingan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, misalnya dengan nama benda/mainan/alat; sifat-sifat yang terdapat dalam kehidupan manusia sehari-hari; unsur-unsur alam; dan makanan. Karya sastra Melayu lama umumnya menggunakan gaya bahasa yang “klise”, misalnya untuk menggambarkan kecantikan, perbandingan yang digunakan adalah “mukanya bersinar bagaikan cahaya rembulan”.

Ada beberapa sebab mengapa Bakir menggunakan gaya bahasa dengan perbandingan seperti yang ditunjukkan di atas. Pertama, situasi yang sudah berubah pada masa ia menulis karyanya. Seperti yang telah disebutkan di atas, Bakir hidup pada masa transisi. Ia mengadaptasi karya sastra Melayu lama (lihat Kramadibrata, 1993),  lalu menyampaikan kembali dengan gaya yang sesuai pada saat itu. Kedua, Bakir menyewakan naskah miliknya. Selain masyarakat Betawi, khalayak yang menyewa naskahnya adalah masyarakat Tionghoa yang hidup di sekitar tempat tinggalnya. Jadi, ia sengaja menggunakan perbandingan seperti yang terlihat di atas agar masyarakat tetap menyewa naskahnya. Dengan demikian, ia dapat  mempertahankan usaha penyewaan naskahnya yang menjadi sumber penghidupannya.

DEWAKI KRAMADIBRATA - Copy DEWAKI-FANS - Copy


1) bangsing: gasing

[1] beraja: bintang beralih

[2] uribang: kembang sepatu

[3] lalawar: kelelawar

[4] capung cibuk: capung yang besar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *